July 5, 2022

Amoscash

Not Just Any News Media

MERANGKUM ARTIKEL DENGAN TEXT-MINING

MERANGKUM ARTIKEL DENGAN TEXT-MINING

Oleh SHIDARTA (Januari 2022)

Dalam teknik membaca cepat (velocity studying), antara lain dianjurkan agar si pembaca melakukan skimming dan scanning. Dalam teknik skimming, mata kita dituntut untuk secepat mungkin mencari kata-kata kunci guna menangkap relasi kata-kata guna dirangkai sebagai ide normal atas teks itu; dan kemudian melakukan scanning guna memahami keterangan-keterangan tertentu yang dipandang paling relevan dalam memaknai isi teks.

Pekerjaan untuk melakukan skimming dan scanning ini kini dapat dibantu dengan teknologi digital. Bahkan sudah banyak juga yang menawarkannya secara cuma-cuma. Salah satu di antaranya adalah GetDigest Enterprise. Perangkat lunak berbasis net GetDigest ini telah ditawarkan ke publik melalui situs https://getdigest.com/en yang saat ini diklaim mampu melayani 33 bahasa, termasuk teks berbahasa Indonesia, dengan quantity file maksimal 5 Mb dan 7.000 simbol. Ia menerima format berupa Microsoft Phrase, Microsoft PowerPoint, Open Workplace (.odp, .odt, .sxw), .rtf, .htm, .xml.

GetDigest sendiri dapat dikategorikan sebagai alat (software) text-mining. Menurut Ronen Feldman dan James Sanger (The Textual content Mining Handbook, 2007: 1), textual content mining:

… might be broadly outlined as a knowledge-intensive course of wherein a person interacts with a doc assortment over time through the use of a set of research instruments. In a fashion analogous to knowledge mining, textual content mining seeks to extract helpful data from knowledge sources by the identification and exploration of attention-grabbing patterns. Within the case of textual content mining, nonetheless, the info sources are doc collections, and attention-grabbing patterns are discovered not amongst formalized database data however within the unstructured textual knowledge within the paperwork in these collections.

Tulisan ini ingin menunjukkan hasil percobaan perangkuman melalui text-mining atas sebuah artikel yang pernah penulis publikasikan bersama Dr. Stijn Cornelis van Huis dalam sebuah jurnal internasional.  Artikel itu berjudul: “Between Revenues and Public Service Supply SOEs and PSAs in Indonesia” yang telah dimuat dalam jurnal internasional bereputasi yang usianya hampir dua abad: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia and Oceania (BIJDR TAAL-LAND-V), quantity 176 (2020): 304-337. 

Artikel di atas adalah tulisan yang berangkat dari sudut pandang akademisi hukum, khususnya peminat filsafat hukum. Arah kajian ini terlihat pertama-tama dari kalimat terakhir dalam abstrak, yaitu: “We argue that to sort out informality and to safeguard the social capabilities of public providers, the spear heads of effectivity and revenues in Indonesian bureaucratic reform insurance policies require a sturdy basis, consisting of regulatory and ideological element.” Bagi para pembaca yang cermat, kata-kata kunci pada akhir abstrak ini tidak boleh lepas dari teknik skimming dan scanning. Kata-kata bernuansa filsafat hukum itu di dalam abstrak ada pada:  “sturdy basis” dan “regulatory and ideological element” yang memperlihatkan posisi sikap dari para penulisnya. Bahkan, pada tubuh karangan juga ditemukan ada empat kata “philosophy” atau “philosphical”. Memang kata-kata ini tidak dimunculkan di dalam key phrases pada bagian abstrak karena cenderung berkonotasi sebagai terma normal dan juga karena pertimbangan lain, seperti jumlah kata kunci yang tidak boleh lebih dari lima. Kali ini, dalam tulisan pendek ini, kita ingin melihat apakah GetDigest sebagai sebuah mesin text-mining mampu menangkap pola-pola kalimat yang menggambarkan posisi sikap tadi melalui teknologi digital.

Setelah artikel itu diunggah ke dalam sistem, maka tampak hasil digest-nya sebagai berikut:


Key phrases:

SOE, MANAGEMENT, INDONESIA, REFORM, Public Administration, POLICY, AGENCY, PSAs in Indonesia, authorities businesses, public service businesses

Digest:

  1. …Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 176 (2020) 304-337 bki brill.com/bki Between Revenues and Public Service Supply SOEs and PSAs in Indonesia Shidarta Bina Nusantara College, Jakarta, Indonesia [email protected] Stijn Cornelis van Huis Bina Nusantara College, Jakarta, Indonesia [email protected] Summary This text examines the event of insurance policies concerning the state-owned enterprises (SOEs) and public service businesses (PSAs) in Indonesia….
  2. …The rationale behind this autonomy is according to the New Public Administration very best: the creation of extra market-oriented authorities establishments with the target of accelerating the effectivity and effectiveness of public service supply….
  3. …The PSA coverage has elevated state revenues considerably, but the standard of providers and accountability has not improved accordingly….
  4. …A comparability with SOEs reveals that the restructuring of presidency businesses and SOEs occurred earlier than a supportive framework was set in place.We argue that to sort out informality and to safeguard the social capabilities of public providers, the spearheads of effectivity and revenues in Indonesian bureaucratic reform insurance policies require a powerful basis, consisting of regulatory and ideological elements….
  5. …Key phrases state-owned enterprises (SOEs) – public service businesses – restructuring – financial – coverage – Indonesia
  6. Introduction In his first speech after being re-elected, Indonesian president Joko Widodo, popularly often known as Jokowi, burdened the significance of getting a mindset change inside the forms….
  7. …Badan Layanan Umum (BLU, Public Service Companies; hereafter PSAs), authorities businesses that possess appreciable freedom to handle their very own financial affairs, match properly on this New Public Administration ideology….
  8. …This text examines the event of those PSAs in Indonesia, specifically the way it pertains to restructuring insurance policies pertaining to Badan Usaha Milik Negara (BUMN, state-owned enterprises; hereafter SOEs)….
  9. …Though SOEs don’t dominate Indonesia’s financial system, SOEs are among the many largest Indonesian firms….
  10. …New Public Administration, modelled to Eighties’ public sector reforms within the Organisation for Financial Cooperation and Improvement (OECD) international locations, is characterised by a number of shifts in administration insurance policies ranging ‘from coverage making to administration abilities, from a stress on course of to a stress on output, from orderly hierarchies to an intendedly extra aggressive foundation for offering public providers, from fared to variable pay, and from a uniform and inclusive public service to a variant construction with extra emphasis on contract provision’ (Hood 1995:95)….
  11. …Regardless of the worldwide attraction of New Public Administration reforms, there isn’t a conclusive proof that utility of a extra company type of public administration will result in a greater efficiency of public providers in the long term….
  12. …PSAs are established to create a extra private-sector-like, company governance inside authorities businesses….
  13. …This text argues that the historical past of SOE reforms demonstrates that insurance policies regar…

 

Untuk mudahnya, hasil perangkuman GetDigest itu kita berikan penomoran. Ada 12 poin dari hasil rangkuman tersebut. Ternyata, seluruh 12 poin yang berhasil dirangkum oleh GetDigest, ia hanya mengambilnya dari bagian abstrak dan pendahuluan (introduction). Ia tidak keluar dari bagian ini untuk merambah masuk ke subbahasan lainnya.

Pada poin 1 sampai dengan 5, GetDigest hanya merangkum apa yang sudah tertulis di dalam abstrak. Artinya, untuk artikel jurnal yang sudah tersedia abstraknya, ia memusatkan perhatian pada abstrak itu. Semua kalimat di dalam abstrak dianggapnya penting untuk menjadi fondasi dari artikel itu.

Pada poin 6, GetDigest ternyata mengambil paragraf pertama pada bagian pendahuluan. Rupanya ia menganggap bagian ini menjadi titik awal pijakan para penulis dalam menggambarkan problematika yang ingin diangkat sebagai topik artikel.

Pada poin 7, GetDigest masih berkutat pada bagian pendahuluan ini. Kali ini ia mengambil satu potongan kalimat pada alinea kedua, yang berbicara tentang badan layanan umum (BLU). Potongan kalimat tersebut harus dibaca bersambungan dengan poin 8 dan 9 untuk menunjukan bahwa BLU (PSA) bukan satu-satunya titik perhatian, melainkan PSA bersama-sama dengan SOEs. Sangat menarik bahwa GetDigest menganggap potongan kalimat yang memuat kata “ideology” sebagai hal yang penting untuk ditampilkan.

Poin 10 sampai dengan 12 adalah cuplikan dari kalimat pertama dalam tiga alinea terakhir bagian pendahuluan. Poin-poin ini sangat mungkin dianggap memadai untuik menjadi bagian rangkuman karena sudah memuat konklusi dari tulisan tersebut.

Dengan demikian, melalui satu percobaan ini kita dapat mengatakan bahwa perangkuman melalui text-mining atas artikel di atas memang tidak mengabaikan pola-pola kalimat yang menunjukkan posisi sikap para penulis. Namun, penelusuran GetDigest belum memadai untuk memahami keseluruhan isi tulisan. Sayang sekali, perangkuman hanya memusatkan perhatian pada bagian pendahuluan dan tidak keluar dari space tersebut. Ekspektasi kita terhadap perangkuman ala text-mining ini tentu lebih jauh daripada itu. Sebagai contoh, posisi sikap dari para penulis yang tertuang pada lima alinea penutup artikel, sangat penting untuk dirangkum. Kita dapat cermati hal itu, misalnya, pada cuplikan alinea penutup:

We imagine that the persuasive energy of key ministers in President Jokowi’s administration ought to be used to supply a transparent justification for the institution of PSA s. A ‘clear justification’ in our perspective refers to a transparent philosophical basis wherein the social capabilities of PSA s and SOE s are underlined. Reforms in schooling and well being sectors can’t be solely based mostly on patrimonialism to be sustainable; they want sturdy monetary management mechanisms and an accountability that values monetary and social aims equally. High quality of administration and providers ought to be simply as necessary as revenues, and accessibility of providers as necessary as bureaucratic reforms. Such an ideological basis is important to bringing about change within the bureaucratic tradition—an actual revolusi psychological.

Jadi, pesan ethical atas perangkuman artikel dengan text-mining ini adalah bahwa alat bantu seperti ini memang selayaknya diposisikan sebagai “alat bantu” dalam arti sesungguhnya. Sebagai alat bantu, ia mungkin dapat bekerja lebih cepat, tetapi terbukti tetap belum mampu menandingi [potensi] kapasitas performa otak alami manusia.

Percobaan atas satu artikel seperti dilakukan di atas juga belum tentu representatif menggambarkan kemampuan mesin-mesin perangkum yang diperkenalkan kepada masyarakat. Sebagai teknologi, tentu mereka semua terus berkembang dan untuk itu mereka membutuhkan masukan dari para pengguna. Oleh sebab itu, tidak salahnya para pembaca untuk memanfaatkannya dan memberi penilaian sendiri. Silakan mencoba! (***)


MERANGKUM ARTIKEL DENGAN TEXT-MINING